+62 811-258-168 noto.djogja@gmail.com

Wisata  Wayang  adalah  sebuah  brand  dari  Paguyuban  Pengrajin  Wayang  Kulit  Pucung.  Pucung adalah nama desa yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai pengrajin wayang  kulit.  Mereka  mendapatkan  keahlian  membuat  wayang  kulit  dari  warisan  nenek  moyang.  Oleh  karena  itu  Desa  Pucung  dinobatkan  sebagai  Sentra  Kerajinan  Wayang  Kulit  oleh Pemerintah Kabupaten Bantul.

Desa  wisata  wayang  kulit  Pucung  terletak  di  Kelurahan  Wukirsari,  Kecamatan  Imogiri,  Kabupaten  Bantul,  Daerah  Istimewa  Yogyakarta.  Kurang  lebih  berjarak  dua  kilometer  dari  Makam  Raja-raja  Kasultanan  Yogyakarta  dan  Kasunanan  Surakarta. 

Dengan  kondisi  alam  berupa  pegunungan,  Desa  Wisata  Pucung  memiliki  banyak  keindahan  alam  yang  masih  asri  seperti  Air  Terjun  Banyunibo  dan  Gardu  Pandang  Puncak  Petruk  yang  menyajikan  pemandangan Kota Yogyakarta. Selain terkenal dengan wayangnya, Jogja juga terkenal dengan berbagai jenis bangunan tradisionalnya, yakni rumah joglo dan lain sebagainya.

Wayang kulit merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia yang telah dilestarikan dari generasi ke generasi. Keberadaannya sebagai budaya yang ailuhung telah diakui oleh UNESCO, badan dunia yang mengurus tentang pelestarian kebudayaan. Pada tanggal 7 November 2003, wayang kulit telah ditetapkan sebagai Masterpiece of Oral and Intagible Heritage of Humanity.

Kerajinan wayang kulit di desa Pucung adalah salah satu sentra kerajinan wayang yang ada di Indonesia.
Tampilan kerajinan wayang, sumber: limakilo,id

Wayang kulit dibuat dari kulit kerbau. Kulit kerbau dipilih karena mampu menghasilkan wayang kulit yang kuat, tidak mudah melengkung. Kulit sapi pernah coba digunakan untuk membuat wayang kulit. Tapi ternyata, wayang yang dihasilkan tidak kuat dan cepat melengkung. Kulit kerbau sebagai bahan pembuatan wayang kulit biasanya didatangkan dari Nusa Tenggara Barat.

Sejarah Istilah Wayang?

Di Jawa, dikenal empat jenis wayang kulit. Wayang-wayang tersebut dibedakan berdasarkan tokoh serta cerita yang dibawakan. Yang pertama adalah wayang Purwa yang membawakan cerita Ramayana dan Mahabarata. Kedua adalah wayang Madya. Wayang ini diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai penyambung wayang Purwa dengan wayang Gedog, begitu pula dengan cerita yang dibawakan.

Baca juga: Taman bungan celosia yang terkenal di Jogja

Salah satu cerita yang terkenal dari wayang jenis ini adalah Anglingdarma. Kemudian adalah wayang Gedog. Wayang ini diperkirakan sudah ada sejak zaman Majapahit. Cerita yang dibawakan berasal dari serat Panji. Yang terakhir adalah wayang Klithik. Wayang ini diciptakan oleh Pangeran Pekik, Adipati Surabaya. Cerita yang dibawakan dalam wayang ini berasal dari Panji dan Damarwulan.

Ada dua pendapat mengenai usul kata “wayang”. Yang pertama beranggapan kata ini berasal dari “ma hyang” yang berarti menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Sementara, pendapat yang lain menganggap “wayang” merupakan bahasa Jawa untuk “bayangan”. Hal ini merujuk pada bentuk pertunjukan wayang.

Ada dua pendapat mengenai usul kata “wayang”. Yang pertama beranggapan kata ini berasal dari “ma hyang” yang berarti menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa.
Tampilan wayang atau ma hyang, sumber: pangauban-katapang.desa.id

Penonton melihat pertunjukan berupa bayangan wayang yang dimainkan oleh dalang. Dalang memainkan wayang dari balik layar. Keagungan wayang kulit tidak hanya terletak pada pertunjukannya, tapi juga pada proses pembuatan wayang. Diperlukan keahlian, ketekunan, dan kesabaran dalam pembuatan sebuah wayang kulit.

Proses Pembuatan Wayang Kulit?

Proses pertama adalah merendam kulit kerbau selama 1 malam. Pada pagi harinya, kulit dikerok hingga halus lalu dijemur hingga menjadi kulit kering yang siap untuk proses berikutnya.Proses berikutnya adalah membuat pola di atas kulit yang telah dikeringkan. Setelah gambar selesai dibuat, dilakukan nyungging (pewarnaan). Setelah itu, wayang diberi tangkai yang terbuat dari tanduk kerbau.

Proses pembuatan sebuah tokoh wayang memerlukan waktu sekitar 1 minggu sampai 4 bulan. Lamanya proses tergantung pada ukuran dan tokoh yang dibuat. Proses pembuatan yang memerlukan waktu paling lama adalah Gunungan. Detail gambar yang sangat rumit serta ukurannya yang lebih besar dari wayang yang lain menjadi alasan proses pembuatan Gunungan lebih lama.

Baca juga: Desa wisata Banyusumurup penghasil keris

Kerajinan Wayang Kulit Desa Pucung

Sebagai desa wisata kerajinan wayang kulit, desa Pucung menghasilkan beberapa produk wayang kulit. Jika Anda berlibur di Kota Yogyakarta, tidak ada salahnya jika mengunjungi destinasi wisata kerajinan ini. Ada lima jenis wayang kulit yang berkualitas di desa Pucung, apa saja? Berikut ulasan lengkapnya.

1. Wayang Beber

Wayang kulit yang pertama adalah wayang Beber. Wayang Beber adalah salah satu wayang tertua yang ada di Indonesia. Nama Beber tersebut diambil dari cara memainkannya yaitu dengan cara membeberkan atau dibentangkan. Seiring waktu, perkembangan zaman menuntut wayang beber untuk turut menyesuaikan.

Wayang Beber adalah salah satu wayang tertua yang ada di Indonesia. Nama Beber tersebut diambil dari cara memainkannya yaitu dengan cara membeberkan atau dibentangkan. Wayang ini adalah jenis yang pertama yang bisa Anda temukan di kerajinan wayang desa Pucung di Bantul.
Ilustrasi wayang beber, sumber: kompasiana.com

Kemudian, muncul wayang beber kontemporer. Bentuk karakter wayang berubah dan semakin bervariasi. Cerita wayang juga mengalami perubahan. Wayang klasik baisa menyajikan cerita Mahabharata dan Ramayana. Sekarang wayang kontemporer lebih menonjolkan cerita tentang kehidupan masyarakat saat ini. Jenis kerajinan wayang ini bisa juga Anda jadikan sebagai paket seminar kit agar lebih berkesan dan unik.

2. Wayang Purwa

Wayang yang selanjutnya adalah wayang Purwa. Wayang Purwa pertama kali dikenal di Indonesia pada sekitar abad ke-11, yakni pada masa pemerintahan raja Airlangga. Wayang Purwa mempunyai bentuk yang pipih dan terbuat dari kulit kerbau yang tebal. Wayang Purwa juga mempunyai lengan dan kaki yang bisa digerakkan sehingga ketika dimainkan akan terlihat lebih menarik lagi.

Wayang Purwa pertama kali dikenal di Indonesia pada sekitar abad ke-11, yakni pada masa pemerintahan raja Airlangga. Wayang Purwa mempunyai bentuk yang pipih dan terbuat dari kulit kerbau yang tebal.
Ilustrasi wayang purwa, sumber: indonesia.go.id

3. Wayang Golek

Jenis wayang yang selanjutnya adalah Wayang Golek. Wayang jenis ini merupakan salah satu wayang yang terkenal dan banyak tersebar pada daerah pulau Jawa bagian Barat. Wayang Golek termasuk ke dalam salah satu wayang yang lebih muda usianya karena pertama kali dikenal pada sekitar abad ke-17. Dalam pertunjukkan Wayang Golek sedikit berbeda karena tidak menggunakan bahasa Jawa, melainkan menggunakan bahasa Sunda.

Wayang jenis ini merupakan salah satu wayang yang terkenal dan banyak tersebar pada daerah pulau Jawa bagian Barat.
Ilustrasi wayang golek, sumber: beritasatu.com

4. Wayang Klitik

Wayang Klitik memiliki sedikit perbedaan dengan wayang yang lainnya karena wayang ini tidak dibuat sepenuhnya dengan kulit, melainkan terbuat dari kayu. Istilah Klitik dipakai dari suara kayu yang saling bersentuhan ketika wayang sedang digerakkan atau dimainkan.

Wayang Klitik memiliki sedikit perbedaan dengan wayang yang lainnya karena wayang ini tidak dibuat sepenuhnya dengan kulit, melainkan terbuat dari kayu.
Tampilan wayang klithik, sumber: nusantaranews.co

Selain wayang yang terbuah dari bahan kulit hewan, kerajinan wayang yang ada di desa Pucung juga menghasilkan icon para tokoh pewayangan yang berbahan dasar material lain, seperti besi, aluminium atau baja ringan. Untuk menjamin kepuasan konsumen yang berkunjung, Anda juga bisa memesan model dan ukuran sesuai yang diinginkan.

Nah itulah ulasan singkat mengenai kerjainan wayang di desa Pucung yang terletak  di  Kelurahan  Wukirsari,  Kecamatan  Imogiri,  Kabupaten  Bantul,  Daerah  Istimewa  Yogyakarta. Semoga tulisan ini dapat menambah wawasan Anda mengenai tempat wisata unik dan kekayaan budaya Indonesia.